English | Indonesia
Login
Media Indonesia, No. 11856, Tahun XLIV, Minggu 29 September 2013, Ikon, Hal 19
Bertindak Nyata untuk Lingkungan. Kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan telah mendapat pengakuan internasional. Ia pun ingin mengajak banyak anak muda lainnya melakukan hal positif serupa. Beragam masalah lingkungan menghantui negeri kita, mulai kebakaran hutan, banjir, polusi, hingga timbulnya penyakit baru karena ketidakseimbangan ekosistem alam. Sebagian besar penyebabnya tentu saja ulah manusia itu sendiri. Ada kecemasan tentang akan seperti apa kehidupan generasi mendatang.

Namun bertemu dengan Adeline Tiffanie Suwana, aktivis muda lingkungan hidup, membangkitkan harapan baru. Remaja yang baru berumur 16 tahun itu belum lama ini memperoleh penghargaan The International Diana Award dari Perdana Menteri Inggri David Cameron.

Adeline dinilai telah memberikan sumbangan positif yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Gadis yang baru saja diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu memang telah memulai aksi peduli lingkungan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pehobi basket dan renang pun aktif menularkan semangat peduli lingkungan kepada teman-temannya.

Baru-baru ini kamu mendapat Diana Award. Apa sih arti penghargaan tersebut buat kamu? 

Yang jelas senang, ya, dapat penghargaan itu. Aku bisa mewakili anak-anak muda untuk melestarikan lingkungan dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan.

Sejak kapan mulai tergerak untuk lebih peduli lingkungan?

Ketertarikan aku dengan lingkungan itu sudah lama, sejak 2008. Waktu itu, aku masih SD mau ke SMP. Awalnya terpicu untuk melestarikan lingkungan karena banjir di Jakarta, kebetulan aku tinggal di kawasan Jakarta Utara dan di situ kalau banjir, lumayan parah, ditambah lagi dengan kemacetan. Waktu banjir aku sama keluarga pernah sampai ngungsi ke suatu tempat dan ngangkat-ngangat barang. Nah, dari situ aku mulai tergerak untuk mencari tahu kenapa sih bisa sering banjir dan apa penyebabnya? Aku banyak nanya-nanya ke orang. Banyak yang bilang karena sampah, sistem perairan di Jakarta, bahkan ada temanku yang bilang memang sudah kehendak Tuhan. Saat aku SMP aku nanya ke guru IPA, di situ aku dijelasin tentang perubahan iklim dan global warming. Buat aku, itu sesuatu hal yang baru. Akhirnya aku tertarik ingin mengetahui lebih dalam tentang itu.

Hal apa saja yang sudah kamu lakukan terkait pelestarian lingkungan?

Saat aku SMP, aku tergerak melakukan sesuatu dengan teman-teman, yaitu membuat Sahabat Alam. Awalnya itu hanya sebuah klub aja sih, kayak klub anak-anak gitu. Kegiatan pertama aku ngajak mereka menanam pohon bakau karena kebetulan di Jakarta Utara lagi ada konservasi pohon bakau. Saat itu aja aku enggak tahu, lo, pohon bakau, itu apa. Setelah itu, karena feedbacknya bagus, teman-teman pun semakin tertarik dan semakin ingin tahu juga tentang lingkungan sehingga jadi dikembangkan terus untuk melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan yang lainnya.

Susahkah mengajak teman-teman sebaya ikut melestarikan lingkungan?

Enggak terlalu sulit juga karena, menurut aku, melestarikan lingkungan itu ya bergantung dari diri masing-masing. Setiap orang kan memiliki sifat dan ketertarikan yang berbeda. Dengan cara menerapkan rasa kepedulian terhadap lingkungan, menurut aku, semua orang bisa melestarikan lingkungan kalau memang niat dan peduli tehadap lingkungan sekitar.

Sampai sekarang klub tersebut masih bertahan?

Waktu itu Sahabat Alam pernah mendapatkan penghargaan Kehati Award dari Yayasan Kehati. Aku mendapatkan Tunas Lestari Kehati Award. Dari situ terpikir kenapa enggak dibuat LSM saja. Setelah melalui proses, akhirnya sekarang jadi NGO nonprofit. Dari situ kita punya lebih banyak kegiatan, seperti konservasi terumbu karang dan ekspedisi taman nasional. Ini sudah tahun ke-5.

Pernah mendapat hambatan dalam usaha kamu melestarikan lingkungan?

Hambatan kecil sih ada, ya, kayak masalah finasial dan funding. Kegiatan kita juga kadang melibatkan anak-anak sekolah dasar, bahkan ada juga taman kanak-kanak. Mereka harus dijaga karena masih kecil. Kalau sampai kenapakenapa, kita yang repot.

Dengan segala keterlibatan kamu di bidang lingkungan, kok pilih kuliah juruan ekonomi?

Iya, padahal waktu SMA jurusanku IPA, tapi aku lebih tertarik ke jurusan yang ada hubungannya dengan sosial. Menurutku, ekonomi itu sangat dibutuhkan dalam hal apa pun.

Bagaimana cara kamu membagi waktu belajar dengan kegiatan yang lainnya?

Sejak Lebaran kemarin masih agak vakum karena memang banyak banget anak lainnya yang lagi persiapan buat jadi mahasiswa baru. Lagi sibuk-sibuknya ngurusin ospek dari senior-senor. Sampai sekarang belum ada kegiatanyang yang udah dirancang lagi. Ya mudah-mudahan nanti Oktober atau November sudah ada kegiatan lagi untuk lingkungan. Kalau masalah waktu belajar dengan kegiatan lainnya seperti kegiatan lingkungan, itu tidak terlalu sulit membagi waktunya karena di Sahabat Alam itu minimal sebulan sekali ada kegiatan. Untuk sekarang lagi fokus ke urusan kuliah dulu.

Apa harapan kamu untuk lingkungan saat ini?

Harapan aku mudah-mudahan lebih banyak generasi muda yang aktif dan peduli terhadap lingkungan. Selain itu, ada keselarasan, anatara apa yang pemuda inginkan dengan tindakan yang mereka lakukan. (*/M-1)

Dian Palupi

  


Copyright © 2018 Sahabat Alam. All Rights Reserved.