English | Indonesia
Login
Nova, No. 1342/XXVI, 11-17 Nopember 2013, Nova Choice, 035, Nov 2013, Hal. 6
ADELINE TIFFANIE SUWANA, Banjir Mengantar Adeline Jadi Pejuang Lingkungan. Meski berusia muda, kiprah remaja perempuan ini merentang hingga ke jenjang Internasional. Puluhan penghargaan berhasil diraih. Inspirasi bagi generasinya.

Mengenakan celana jeans berwarna gelap, berpadu dengan kaus putih chiffon cardigan berwarna senada, penampilan Adeline benar-benar menampakkan kemudaannya. Perawakannya yang mungil dan raut wajahnya yang seperti ingin selalu tersenyum, membuat siapa pun merasa mudah akrab.

Ya, usia Adeline memang masih 16 tahun. Namun jangan salah. Di usianya yang semuda itu Adeline telah berhasil membuktikan dirinya sebagai remaja yang bisa dibanggakan bukan saja bagi keluarga, tapi juga Negara. Sejumlah penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri telah Adeline raih.

Teranyar pada September silam, pemerintah Inggris menganugerahi Adeline, Diana Award 2013. Adeline dianggap telah berjasa dalam pelestarian lingkungan. Penghargaan itu sendiri "dititipkan" kepada Duata Besar T.M. Hamzah Thayeb pada 17 September lalu di Inggris.

"Sayang sekali, padahal dua minggu sebelumnya saya masih berada di London," tutur Adeline.

Saat itu dirinya memang tengah menjadi salah satu delegasi yang dikirimkan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Inggris. "Setelah saya kembali ke Indoensia, dua minggu kemudian ada pengumuman saya dapat Diana Award," papar Adeline yang saat ini berstatus sebagai mahasiwa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Diana Award sendiri adalah penghargaan yang diberika Pemerintah Inggris sejak 1999 lalu. Diberikan kepada mereka yang masih berusia 9-18 tahun, namun dinilai memiliki kontribusi positif untuk lingkungan dan komunitasnya. Setelah mendapat penghargaan, mereka akan menjadi bagian dari Diana Network yang memiliki visi membangun jaringan kerja sama dalam isu lingkungan.

TERTARIK SEJAK KECIL

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku tertarik kepada isu lingkungan sejak kecil. Kegemerannya bertanya dan sifatnya yang serba mau tahu telah membawanya ke pencarian jawaban atas pertanyaan mengapa rumahnya kerap dilanda banjir.

"Rumah saya di Kelapa Gading (Jakarta). Dulu, saat masih kecil, setiap bulan Januari memang kerap banjir. Tapi pada 2007, banjir jadi parah banget," tutur Adeline.

Adeline bertanya-tanya mengapa terjadi perbedaan sedemikian parah jika dibanding dengan banjir-banjir terdahulu. Ada yang mengatakan kepadanya penyebab banjir tersebut adalah kesalahan penanganan sampah di Jakarta. Ada pula yang bilang soal tata kelola air. "Bahkan ada teman-teman yang bilang itu kehendak Tuhan," ujar Adeline seraya tertawa ringan.

Jawaban memuaskan datang dari guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di sekolahnya. Menurut sang guru, banjir tersebut terkait dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

"Ini kata-kata baru buat saya. Dari situ saya terdorong ingin tahu lebih dalam lagi" ucap Adeline.

SAHABT ALAM

Mendapat pengetahuan mengenai pentingnya kelestarian lingkungan, mendorong Adeline yang kala itu masih berusia 12 tahuan untuk berbuat sesuatu. "Ternyata banyak banget aksi yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki lingkungan saya," kata Adeline.

Pada tahap awal, Adeline mencoba menularkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan ke teman-temannya. "Teman-teman saya banyak yang belum tahu. Padahal ini masalah yang sangat terkait dengan generasi saya," tambahnya.

Pelan tapi pasti, Adeline mengumpulkan teman-temannya untuk berbgai pengetahuan dan menyusun rencana aksi. Hasilnya luar biasa. Sebelum liburan panjang berakhir Adeline yang kala itu baru saja lulus Sekolah Dasar, bersama teman-temannya menanam pohon bakau di pesisir pantai utara Jakarta.

"Saya memang tertarik bakau. Pada saat itu saya sempat membuat dokumenter tentang bakau. Saya ingin teman-teman saya tahu apa sih bakau itu, wujudnya dan fungsinya. Indonesia itu ternyata negara nomor dua terbesar di dunia yang memiliki bakau," tutur Adeline.

Dari sini kemudian dia membentuk Sahabat Alam. Organisasi ini berdiri pada 2008 dan masih terus beraktivitas hingga hari ini. "Awalnya ini hanya kumpul-kumpul saja, bukan organisasi," kata Adeline. Belakangan Sahabat Alam bertransformasi menjadi organisasi resmi.

Aksi-aksi terus mereka lakukan seperti membersihkan sampah di pantai, menanam terumbu karang, melepas penyu sisik, kampanye ke sekolah-sekolah, hingga melakukan ekspedisi ke taman-taman nasional. Mereka yang terlibat pun semakin luas mulai dari yang berusia TK hingga mahasiswa.

Salah satu aksi Sahabat Alam yang cukup mengundang perhatian adalah pembuatan pembangkit listrik tenaga kincir air di Kawasan Cileumpang, Sukabumi. Lantaran aksinya ini, dua desa yang tadinya tak dialiri listrik, mendapat pasokah listrik yang dihasilkan kincir air tersebut.

"Kita bermodalkan pengetahua IPA Fisika untuk anak SMA. Ya, lumayan sukses. Tapi sayang proyek tersebut sekarang tidak jalan. Butuh dana lumayan," ungkap Adeline.

Yang menyenangkan, menurut Adeline, respon teman-temannya terhadap isu lingkungan terbilang positif, "Ada kesadaran dan ketertarikan teman-teman untuk terus ikut beraksi," imbuh Adeline.

Sampai persoalan pendanaan pun mereka merealisasikannya bersama-sama secara mandiri. Adeline dan teman-temannya berupaya mencari dana operasional kegiatan, di antaranya lewat berjualan kaos, pin, dan mendaur ulang barang-barang sehingga memiliki nilai jual. "Kita fundraising dari apa yang kita bisa dan kita punya," ucap Adeline.

Adeline kini menyimpan harapan agar Indonesia mau bergerak menuju pengembangan system energi terbarukan. Menurut dia, kunci persoalan lingkungan seperti perubahan iklim atau pemasanan global bermula dari persoalan pengelolahan energi.

"Dan menurut saya Indonesia sudah mencapai progress yang sangat baik untuk perbaikan lingkungan. Presiden sendiri sudah memiliki janji untuk menurunkan emisi karbon hingga 26 persen sampai tahun 2020. Indonesia sudah memiliki komitmen untuk lingkungan bila dibanding negara-negara lain, ada proses mengarah ke kebaikan," ungkapnya lagi.

SARAT PRESTASI

Meski dikenal karena kepeduliannya yang tinggi terhadap lingkungan, prestasi Adeline sebenarnya tak terbatas dalam bidang lingkungan.

Sejak SMP Adeline berlangganan mengikuti dan menjuarai olimpiade-olimpiade sains dan matematika tingkat pelajar, baik nasional, maupun internsaionl. Dia juga aktif menjadi pseserta atau pembicara di berbagai konferensi tingkat dunia mewakili Indonesia. Bahkan Adeline juga berprestasi di bidang olahraga seperti renang dan futsal.

Namun begitu, bukan berarti Adeline melupakan masa-masa indah remajanya. "Saya tertarik soal isu lingkungan. Tapi di lain hal saya tetap have fun dengan teman-teman, masih suka enjoy juga dengan teman-teman," ujar alumnus SMAK 1 Penabur Jakarta yang sangat menggemari grup band Cold Play ini.

 

  


Copyright © 2018 Sahabat Alam. All Rights Reserved.