English | Indonesia
Login
Jawa Pos, Jumat 25 Oktober 2013, Hal. G5
ADELINE TIFFANIE SUWANA. Pelajar, Aktivis Lingkungan. Menggelorakan Energi Terbarukan. Berbicara soal isu lingkungan, ada dua hal besar yang akan dihadapi Indonesia di masa depan: pemanasan global dan perubahan iklim. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjanji mengurangi emisi karbon nasional sampai 26 persen pada 2020. Bahkan bisa mencapai 41 persen dengan bantuan negara-negara lain.

Karena itu, saya cenderung memandang persoalan energi terbarukan saat ini lebih urgen dalam persoalan lingkungan. Mengapa bukan penghijauan atau sejenisnya? Kesadaran bangsa ini di bidang penghijauan sebenarnya sudah mulai tumbuh

Indonesia adalah negara yang sangat proaktif menggelorakan kesadaran lingkungan. Gerakan Negara kita lebih sustainable, lebih berkelanjutan. Sistam karbon, pengelolaan hutan dan sebagainya sudah cukup berkembang di Indonesia. Mungkin bisa ditingkatkan.

Melihat perkembangan positif di bidang lingkungan sudah saatnya Indonesia berpikir tentang energi terbarukan. Energi itu berperan sangat penting sebagai kunci untuk memecahkan berbagai masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Energi di alam, seperti yang berasal dari kincir air, kincir angin, atau geothermal dan hydropower energy, bisa diterapkan di negeri ini.

Sebagai contoh, organisai yang saya bentuk dan saya pimpin saat ini, Sahabat Alam, sudah mengimplementasikan penggunaan energi terbarukan di Desa Cilulumpang, Cianjur, Jawa Barat. Salah satu proyek besar yang telah saya lakukan adalah implementasi energy kincir air untuk menghasilkan listrik di desa tersebut karena tiadak terjangkau listrik PLN.

Proyek di Cilulumpang kami  jalankan dua tahun lalu. Membuat PLTA sederhana yang turbinnya menggunakan generator. Proyek itu tidaklah rumit. Cukup dengan pengetahuan IPA yang diajarkan di SMA, proyek tersebut bisa diwujudkan. Dengan bujet yang tidak terlalu besar, kita bisa menghasilkan listrik dari kincri air itu untuk memberikan listrik ke desa-desa semacam Cilulumpang.

Banyak sekali sumber daya yang merupakan hak dasar masyarakat dan pemerintah harus menyediakan buat mereka. Sayang, seperti listrik PLN tidak mampu menjangkau.

Mungkin memang susah karena lokasinya di daerah pegunungan. Namun, justru karena itu, banyak sekali inovasi bisa diimplementasikan dan tentunya ramah lingkngan

Siapa yang akan membuat inovasi tersebut? Tentu saja para pemuda. Banyak anak Indonesia yang melakukan penelitian, tapi sedikit yang mengimplementasikannya ke publik. Anak-anak Indonesia harus lebih aktif bergerak di bidang sosial. Mereka bisa mengimplementsikan penelitian. Untuk itu, kita butuh sebanyak-banyaknya relawan lingkungan yang mau melakukan penelitan dan mengimplentasikannya ke masyarakat.

SAHABAT ALAM YANG INGIN JADI PENULIS

Banjir besar yag melanda Jakarta pada 2007 membuka mata Adeline. Banjir memaksa Adeline dan keluarganya mengungsi. Anehnya, kondisi di lokasi pengungsian benar-benar berbeda dengan kawasan di rumah Adeline. Kering. Tidak ada genangan. Padahal sama-sama di Jakarta.

Adeline penasaran. Dia menanyakan hal tersebut kepada guru IPA di sekolahnya. Sang guru menjawab bahwa banjir memiliki hubungan dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Dia mengajak teman-temannya melakukan aksi lingkungan demi mencegah hal-hal ini terjadi di masa depan. Ide awalnya adalah pohon bakau atau mangrove. Indonesia merupakan pemilik pohon bakau terbanyak kedua di dunia. Mereka menanam bakau di Jakarta Utara. Ada seratus anak yang berpartisipasi.

Sudah lebih dari seratus kegiatan yang mereka lakukan dengan peserta mencapai 25 ribu orang. Adeline menyebarkan virus positif itu dengan mendatangi sekolah hingga menyebarkan SMS. Aktivitas tersebut mengantarnya menjadi duta Indonesia untuk berbicara di forum internasional mengenai lingkungan.

Beberapa penghargaan diraih. Misalnya International Green Award di London sebagai Most Sustainable NGO. Juga Princess Diana Award yang disabet 17 September lalu.

Usia Adeline masih 17 tahun. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu tidak punya rencana untuk berhenti dari aksi lingkungan. Cita-citanya pun sederhana, yakni menjadi penulis.

(Byu/C9/Ca)

 

  


Copyright © 2018 Sahabat Alam. All Rights Reserved.