English | Indonesia
Login
China Town, Edisi 80/VII/Juni 2014, Hal. 42-43
ADELINE SUWANA MERAWAT ALAM. Umur Adeline masih belasan tahun, tapi ia tak seperti remaja kebanyakan, jauh dari kehidupan hura-hura. Dia punya idealisme tinggi untuk merawat alam agar tetap hijau. Apa sebenarnya yang membuat ia mau mengorbankan waktu di tengah kewajiban sebagai anak untuk menimba ilmu di bangku sekolah?

Tak banyak orang tahu siapa itu Adeline Tiffanie Suwana, karena ia termasuk orang yang jarang mau dipublikasi di media massa. Padahal, dia merupakan salah satu generasi penerus di negeri ini yang membuat kita optimistis memandang masa depan alam untuk kehidupan. Ia memberikan inspirasi kepada orang-orang. Dia terlahir sebagai orang yang memiliki "keistimewaan", masih remaja tapi ia tahu betul dampak dari membenci alam. Pada waktu Adeline berusia 12 tahun, merasakan tempat tinggalnya kebanjiran. Dia bertanya-tanya, apakah yang membuat rumah, yang seharusnya sebagai tempat ternyaman berlindung, harus tergenang air. "Dulu penasaran, kenapa kok rumah saya itu banjir, namun rumah saudara saya itu nggak banjir sama sekali, bahkan genangan air juga nggak ada. Sehingga bertanya-tanya dan mulai mencari tahu apa penyebabnya serta mencari tahu solusinya," ujarnya kepada China Town.

Akibat bencana itu, kelahiran Jakarta, 26 Desember 1996 ini mulai serius mencari penyebab banjir di lingkungannya dan bagaimana solusi terbaik. Ternyata, semua itu terjadi karena tangan manusia sendiri, tak peduli lagi dengan alam. Ia tersadar, alam ini harus tetap dijaga agar tak menimbulkan bencana. Dia pun memulai dari lingkungan sekolah dengan mengajak teman-teman di sekolah menengah pertama untuk menanam pohon bakau di pinggiran Jakarta Utara.

Sukses dengan kegiatan pertama, membuat Adeline mendirikan Sahabat Alam pada 2008, dengan kegiatan cinta lingkungan, mulai dari mengolah barang-barang bekas, mengajak seluruh masyarakat untuk naik sepeda, eskpedisi taman nasional, dan membersihkan pantai. Akan tetapi, tak mudah menjalankan misi sosial di tengah zaman sekarang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini harus merelakan uang beasiswa, dan biaya sekolah dari orangtuanya selama di bangku sekoiah menengah pertama dan sekolah menengah atas berbagi dengan organisasi lingkungan tersebut. "Orangtua serta orang terdekat memberi dukungan penuh, sehingga saya tetap optimistis untuk menjalankan organisasi ini. Hingga akhirnya mendapatkan dukungan dari pemerintah serta donasi dari para donatur," jelasnya.

Sekarang Sahabat Alam, sambungnya telah memiliki anggota 20 ribu orang. Itu semua berkat semakin banyak orang sadar untuk mencintai alam dengan merawat. Mahisiswi Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia ini berharap, dengan adanya organisasi alam seperti Sahabat Alam, mampu memberikan motivasi bagi anak muda untuk dapat melakukan tindakan bagi lingkungan sekitar. Dengan begitu, tahu apa yang harus diperbuat, bagaimana cara untuk terus menjaga lingkungan. "Semoga dengan kegiatan ini, saya inigin sekali anak-anak muda dapat melakukan aksi serta menambah pengetahuan mereka tentang lingkungan. karena banyak sekali anak muda yang bertanya-tanya lingkungan kita ini kenapa seperti ini dan tindakan apa yang harus dilakukan," tuturnya.

Kerja keras merawat alam dalam enam tahun terakhir terbanyarkan dengan penghargaan-penghargaan, seperti International Diana Award, Indonesia Green Awards, Outstanding Sutdents for the World, Indonesian Ministry of Foreign Affairs, One Billion Trees Planting, Indonesian Ministry of Forestry, dan International Green Awards Gold Winner - Most Sustainable NGO.

Dian Tami, Reporter

Azis Faradi, Photographer

 

  


Copyright © 2017 Sahabat Alam. All Rights Reserved.