English | Indonesia
Login
Koran TEMPO, Selasa, 16 Desember 2014, Edisi 4781, Kosmo Profil, Hal. 16
DARI BANJIR JAKARTA SAMPAI PENGHARGAAN ANTARNEGARA. Adeline Suwana meraih seabrek penghargaan lingkungan hidup. Bergerak karena rumahnya kebanjiran.

Remaja dengan segudang prestasi itu bernama Adeline Tiffanie Suwana. Berkat klub Sahabat Alam yang dia didirikan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut menyabet penghargaan dari dalam dan luar negeri. Sebut saja dari Yayasan Keanekaramgan Hayati Indonesia atau Kehati, Diana Award dari Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan yang terbaru ASEAN Chanpions of Biodiveristy 2014 akhir bulan lalu.

Buang jauh-jauh bayangan Adel, 18 tahun, sebagai kutu buku yang irit bicara. Gadis penyuka yoga dan futsal ini ceriwis, juga doyan tertawa. Kesan itu kami tangkap saat menemuinya di sela jadwal kuliahnya, di perputstakaan UI, Depok pekan lalu. Adel yang pagi itu mengenakan setelan kasual kerap terkekeh tiap mengenang pengalamannya melestarikan alam yang ia lakukan sejak usia sekolah dasar.

Adel, yang saat itu berumur 11 tahun sukses mengajak puluhan kawan sekolahnya menanam bakau di Pluit, pesisir Jakarta. "Lucu saja, kalau ingat aku sama sekitar 50 anak lain ramai-ramai menanam bakau," katanya."Orang lain mikirnya kami kecil-kecil ini lagi karya wisata. He-he-he."

Inspiurasi bukan datang dari orang tua atau guru, melainkan dari banjir yang merendam Jakarta pada 2008. Adel kecil yang biasanya tetap riang menyambut banjir - karea ia suka naik perahu karet dan aktivitas sekolah diliburkan - kali itu bermuram durja. Pasalnya, banjir besar memaksa dia dan keluarganya mengungsi dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dari guru biologinya, Adel mengenal soal perubahan iklim global. Setelah menggali informasi dari sana-sini, ia menyadari bahwa efek perubahan iklim bisa diminimalkan, salah satunya lewat penanaman bakau. Dia juga mulai tertarik membuat barang daur ulang serta menggiatkan konservasi penyu.

Anggota kelompok pelestari lingkungannya kian hari kian bertambah, sampai akhirnya Adel menamai klubnya Sahabat Alam. "Kami keasyikan dan terus mencari hal baru yang bisa kami lakukan untuk lingkungan," kata Adel.

Enam tahun berjalan, Sahabat Alam yang beranggotakan lebih dari 25 ribu anak muda sudah menggelar lebih dari seratus kegiatan.. Dari yang sederhana seperti naik sepeda bersama, mendaur ulang sampah, melakukan ekspedisi ke taman nasional, mensosialisai organisasi sekolah ke sekolah-sekolah, serta mengkonservasi penyu dan terumbu karang di Kepulauan Seribu.

Adel berharap Sahabat Alam bisa menanamkan kesadaran anak muda bahwa kebiasaan yang dilakukan setiap hari berefek ke alam. Perkara ia mendapat seabrek penghargaan, Adel mengganggapnya sebagai umpan balik positif untuk kelompok, bukan untuk dirinya. "Itu mendukung kegiatan kami, sekaligus ampuh meningkatkan kesadaran orang terhadap alam," kata remaja yang bercita-cita menjadi penulis ini.

Menurut Adel, kesadaran untuk menyayangi alam tak harus muluk-muluk. Cukup dengan membiasakan diri melakukan hal sederhana, seperti mengurangi emisi kendaraan bermotor, tidak membuang sampah sembarangan, juga membawa botol minum sendiri supaya sampah plastik berkurang.

Demi poin terakhir, Adel berencana meletakkan dispenser umum di kampusnya, sehingga orang-orang tak perlu bolak-balik membeli minuman dalam botol. Rencananya dia melanjukan, setiap pengisian dikutip Rp. 1.000. "Tapi belum terealisasi karena terhambat oleh perizinan kampus," ujarnya, lagi-lagi dengan tersenyum.

Isma Savitri - isma.savitri@tempo.co.id

 

  


Copyright © 2017 Sahabat Alam. All Rights Reserved.