English | Indonesia
Login
MEDIA INDONESIA, Minggu, 11 Oktober 2009, Profil, Hal 22
BAGI ADELINE, TIDAK PERLU MENUNGGU UNTUK BERANI BERTINDAK. Maka di usia sangat muda, 12 tahun, ia mendirikan klub lingkungan, membuat program edukasi dan bicara di konferensi internasional.

Adeline Tiffanie Suwana – Si Sahabat Alam

 

Bagi Adeline, tidak perlu menunggu untuk berani bertindak. Maka di usia sangat muda, 12 tahun, ia mendirikan klub lingkungan, membuat program edukasi dan bicara di konferensi internasional.

 

Adeline Tiffanie Suwana punya segala yang diinginkan anak-anak pada umumnya. Ia punya orang tua yang berkecukupan dan terbuka serta teman yang banyak.

 

Maka Wajar jika Adeline seperti ABG (anak baru gede) lainnya hobi nongkrong di mal. Namun, sebenarnya gadis 12 tahun ini lebih senang menanam bakau, melepas penyu, membersihkan sungai, dan berbagai kegiatan alam lainnya.

 

Adeline memang bukan remaja biasa. Sejak lulus SD, ia telah mendirikan klub lingkungan Sahabat Alam tempat ribuan anak (teman-temannya) diberi edukasi dan melakukan berbagai kegiatan lingkungan.

 

Atas aksinya itu, Mei lalu Adeline menyabet penghargaan lingkungan Tunas Kehati Award. Masih tahun ini pula, pada Agustus, ia berangkat ke Korea untuk mewakili Indonesia di konferensi internasional anak-anak bidang lingkungan, Tunza International Children’s Conference.

 

Tidak pelak gadis belia ini layaknya duta lingkungan. Adeline lancar dan lantang berbicara masalah-masalah lingkungan, termasuk isu global seperti perubahan iklim.

 

“Pemerintah kita harus ikut seal the deal in Kopenhagen karena negara kita rentan perubahan iklim,” kata Adeline, saat menjadi salah satu pembicara di peluncuran film perubahan iklim Lakukan Sekarang Juga!, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Kopenhagen, ibu kotaDenmark, merupakan tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB, Desember nanti.

 

Pada gawe itu, Adeline ingin pemerintah Indonesia menyepakati langkah-langkah mengatasi perubahan iklim yang akan dibuat pada konferensi tingkat dunia tersebut.

 

Apa yang dikatakan gadis kelas akselerasi 2 SMP ini mestinya menyentil semua pihak. Sebab jangankan konferensi ini, soal perubahan iklim pun belum banyak orang peduli.

 

Berawal dari banjir

 

Pengetahuan lingkungan Adeline memang tidak lahir begitu saja. Pemenang medali perak Olimpiade Sains Nasional bidang matematika ini menyerap ilmunya dari berbagai sumber.

 

Selain konferensi, Adeline aktif mengikuti berbagai kegiatan lingkungan yang diadakan pemerintah dan swasta.

 

Namun, awal kepeludiannya tumbuh dari “rumah” sendiri.

 

Besar di Kelapa gading, Jakarta Utara, menbuat pasangan Djaja Prabawa Suwana dan Siska Hadiwidjojo harus akrab dengan banjir.

 

“Waktu banjirnya makin parah dan sampai masuk rumah, saya jadi takut dan bingung. Banjir bikin kita tidak bisa ngapa-ngapain. Jadi saya ngerti bahwa lingkungan itu penting buat kita,” ujarnya.

 

Sejak saat itu, kepedulian lingkungan Adeline tumbuh. Ia jadi anak yang antibuang sampah sembarangan dan kemana-mana selalu membawa botol minum sendiri agar tidak menambah sampah plastik.

 

Ahli ilmu hitung dan logika yang juga punya hobi olahraga basket dan renang ini pun akhirnya punya peran baru. Ia jadi polisi lingkungan bagi teman-temannya.

 

Namun, saat melihat banyaknya anak yang tidak peduli lingkungan, ia ingin berbuat lebih.

 

Generasi Hijau

 

Gadis yang aktif di banyak ekskul dan lomba ini pun bertekad membuat organisasi lingkungan.

 

“Kalau pakai organisasi koneksi antara anak-anak jadi kuat. Kalau Cuma sendiri-sendiri kan tidak ada efeknya,” kata langganan juara renang, bahasa Inggris dan matematika ini.

 

Beruntung anak kedua dari tiga bersaudara ini sangat didukung orang tuanya. Maka saat lulus kelas 6 SD, ia pun mendirikan Klub Sahabat Alam.

 

Adeline mengajak teman-teman klubnyu peduli lingkungan dimulai dari rumah sendiri, seperti hemat listrik dan merawat pohon. Ia sendiri merawat lingkungan sekitar rumahnya dengan menanam pohon dan membuat lubang biopori di taman kompleks.

Sahabat Alam juga aktif di berbagai kegiatan lingkungan yang diadakan pemerintah dan swasta, contohnya bersepeda di Hari Bebas Kendaraan Bermotor dan acara susur Sungai Ciliwung.

Adeline kemudian juga membuat kegiatan sendiri untuk klubnyaseperti menanam bakau di Muara Angke, melepas penyu di Kepulauan Seribu.


Dana-dana kegiatan ini diambil dari kocek pribadi. ”Sejak kelas 5 SD saya sudah dapat beasiswa penuh dari sekolah, tiap lomba juga dapat hadiah uang, lalu saya bilang sama mama uangnya buat organisasi ini saja,” tutur gadis yang mengaku tidak suka belanja ini.


Kini Sahabat Alam sudah punya sekitar 2.000 anggota. Namun, mimpi Adeline belum selesai. Hingga kini Adeline ingin mengajak lebih banyak teman dan membuat mereka lebih paham berbagai masalah lingkungan yang lebih besar, seperti pemanasan global.


Untuk lebih memahami isu tersebut, tak segan-segan Adeline pun mewawancarai tokoh-tokoh seperti mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan mantan Gubernur Sutiyoso.


Hasil wawancara itu selain untuk klub, akan disiarkan di sebuah stasiun televisi. ”Saya ingin lebih banyak anak lagi tahu soal lingkungan karena kan kita yang mewarisi bumi ini. Jadi kalau bukan kita yang merawat siapa lagi?”


Adeline telah berusaha menciptakan generasi hijaunya sendiri. Semoga dari tunas kecil ini nantinya tumbuh pohan yang rindang.(M-4)


bintang@mediaindonesia.com


Berani Mencoba

INDONESIA tentunya butuh lebih banyak Adeline lain. Sosok seperti itu bukan muncul begitu saja, melainkan hasil lingkungan yang mendukung.


Adeline bercerita sejak kecil ia telah didorong orang tuanya untuk berani mencoba dan berkompetisi. Saat kelas 3 SD, gadis berkulit kuning ini telah menjajal lomba peragaan busana.


Seiring dengan waktu berjalan, justru ia sendiri yang ketagihan mengikuti perlombaan. Baik di tempat les maupun di sekolah sehingga ia pun menjadi langganan juara, seperti pada lomba bahasa Inggris, matematika hingga renang.


Bersama teman-temannya pula, ia menjuarai lomba basket. Baginya, ikut lomba itu bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan mengetahui kemampuan diri sendiri. ”Ikut lomba itu kita jadi tahu kemampuan sendiri. Itu sebenarnya yang bikin puas,” ujarnya.


Dengan prinsip itu pula, Adeline bisa menerima kekalahan tanpa dengki. Makin besar, Adeline makin berani menjajal lomba skala nasional.

Di antaranya Olimpiade Sains, Kid Witness News hingga kehati Award. Untuk yang terakhir, Adeline mengaku awalnya ragu. Namun, dukungan kedua orang tua yang membuatnya akhirnya mendaftar. ”Mama bilang apa salahnya coba,” ujarnya.


Di sisi lain, Adeline juga dibiarkan bebas merangkai mimpi sendiri. Meski jago matematika, ia bercita-cita menjadi penulis. Ia ingin membuat buku-buku seperti yang ditulis JK Rowling dan Charles Dickens. ”Saya suka buku-buku petualangan,” ujarnya.


Ya, selamat berpetualang Adeline! ( Bing/M-4)

  


Copyright © 2014 Sahabat Alam. All Rights Reserved.